Analisis Sastra Anak yang Berjudul Putri Tidur

A.Wacana Awal

Masa kanak-kanak merupakan masa yang sangat penting bagi keberhasilan pertumbuhan anak. Mereka membutuhkan perhatian dari orang tua atau orang lain di sekitarnya untuk mencapai keberhasilan tersebut. Orang tua dapat memberikan perhatian melalui pembacaan dongeng, fabel, maupun cerita anak yang sesuai dengan usia dan karakter anak. Dalam sastra anak itu terdapat pengayaan bahasa atau ekspresi yang dapat merangsang daya imajinasi anak untuk memahami isi dari suatu cerita. Unsur yang membangun karya sastra itu sendiri merupakan unsur intrinsik, yang terdiri dari tema, alur atau plot, penokohan atau perwatakan, latar atau setting, sudut pandang, pesan moral, dan bahasa. Unsur-unsur tersebut saling berpengaruh satu denagn yang lainnya dalam penciptaan suatu karya sastra anak. Sehingga, dengan adanya kepaduan antar unsur membuat suatu cerita dapat terwujud dengan indah.

B.Sinopsis Cerita

Dahulu kala, hiduplah seorang Raja dan Ratu yang tidak memiliki anak. Hal ini membuat Raja dan Ratu sedih. Suatu hari Ratu berjalan di tepi sungai, tiba-tiba ada seekor ikan kecil mengangkat kepala dan keluar dari air sambil berkata  “Apa yang kau inginkan akan terpenuhi  dan kamu akan segera memiliki putri.”

Ramalan ikan tersebut benar, Ratu melahirkan putri kecil yang cantik. Raja sangat senang dan mengadakan pesta besar-besaran. Ia mengundang sanak keluarga, teman, rakyat, dan juga peri yang ada di kerajaan. Di kerajaan hanya ada dua belas piring emas, sehingga Raja hanya mengundang dua belas peri saja dan peri ketiga belas tidak diundang.

Setelah perjamuan, semua peri memberikan hadiah terbaiknya untuk putri kecil tersebut. Satu peri memberikan kebaikan, peri yang lain memberi kecantikan, kekayaan, dan begitu pula dengan peri yang lain. Setelah peri kesebelas memberikan berkah, peri ketiga belas yang tidak mendapat undangan membalas dendam dan berkata “Putri Raja saat usianya yang kelima belas akan tertusuk jarum jahit dan meninggal.” Peri kedua belas yang belum memberikan berkah maju dan berkata kutukan tersebut akan terjadi, sang Putri tidak akan meninggal tetapi akan tertidur selama seratus tahun.

Berkah yang diberikan semua peri terwujud, sang Putri sangat cantik, baik budi, ramah tamah, bijaksana, hingga semua orang mencintainya. Saat usia sang Putri lima belas tahun, Raja dan Ratu pergi dan sang Putri ditinggal sendiri di istana. Sang Putri menyusuri semua kamar satu persatu hingga ia sampai di sebuah menara tua. Saat membuka pintu, ia melihat seorang wanita sedang menjahit dan menyulam. Sang Putri mengambil jarum jahit dan mulai ikut  menyulam. Secara tidak sengaja sang Putri tertusuk jarum jahit, dan apa yang diramalkan peri ketiga belas terjadi. Sang Putri jatuh ke tanah dan tertidur pulas,  Raja dan Ratu yang baru pulang juga tertidur, kuda di kandang, anjing di halaman, burung merpati di atas atap, dan lalat di dinding, semua jatuh tertidur.

Tanaman-tanaman liar yang berada di sekitar istana tumbuh dan memagari istana. Setiap tahun bertambah tebal hingga menutupi semua tempat dan tidak kelihatan lagi. Kabar Putri cantik yang tertidur terdengar hingga ke pelosok negeri dan membuat anak raja dan pangeran mencoba masuk ke dalam istana itu. Tetapi mereka tidak berhasil  karena duri dan tanaman yang terhampar seolah menjerat mereka.

Setelah bertahun-tahun berlalu, orang tua bercerita kepada Pangeran tentang seorang putri raja yang cantik, tebalnya duri yang memagari istana dan betapa indahnya istana yang terselubung dengan duri. Kemudian Pangeran tersebut berkata “Semua cerita ini tidak akan menakutkan saya, saya akan pergi dan melihat Putri Tidur tersebut.” Meski orang tua tersebut melarang, Pangeran tetap memaksa untuk pergi.

Saat ini, seratus tahun telah berlalu. Ketika Pangeran datang ke semak belukar yang memagari istana, yang di lihat hanyalah tanaman indah yang dapat dilalui dengan mudah. Tanaman tersebut menutup kembali setelah Pangeran melaluinya. Saat Pangeran tiba di istana, dilihatnya anjing sedang tertidur, begitu juga kuda di kandang, dilihatnya burung merpati tertidur dengan kepala di bawah sayapnya, ketika masuk di istana, dia melihat lalat tertidur di dinding, dan tukang masak yang masih memegang rambut anak yang kelihatan meringis dalam tidur.

Ketika masuk ke dalam, semua terasa sunyi, hingga ia tiba di sebuah menara tua dimana Putri Tidur berada. Putri Tidur terlihat begitu cantik hingga sang Pangeran tidak dapat melepaskan matanya dari sang Putri. Sang Pangeran lalu berlutut dan mencium sang Putri hingga sang Putri membuka mata dan terbangun sambil tersenyum kepada sang Pangeran.

Mereka keluar dari menara dan saat itu Raja dan Ratu juga telah terbangun termasuk menterinya. Kuda di kandang pun terbangun dan meringkik, anjing-anjing melompat dan menggonggong, burung merpati mengeluarkan kepala dari bawah sayapnya dan terbang, lalat berterbangan, dan api di dapur kembali menyala. Akhirnya, Raja dan Ratu mengadakan pesta pernikahan untuk sang Putri dan Pangeran yang berakhir dengan kebahagiaan sepanjang hidup mereka.

C.Unsur Intrinsik

1.Tema

Tema yang dapat ditemukan dalam cerita “Putri Tidur” adalah sebagai berikut:

a. Tekad keras seorang pemuda

Tema ini sesuai dengan kutipan berikut: Kemudian seorang Pangeran yang mendengar ceritanya berkata, “Semua cerita ini tidak akan menakutkan saya. Saya akan pergi dan melihat Putri Tidur tersebut.” Walaupun orang tua yang bercerita tadi telah mencegah Pangeran itu untuk pergi, Pangeran tersebut tetap memaksa untuk pergi.

b.Kerja keras berbuah kebahagiaan

Tema ini sesuai dengan kutipan berikut: Akhirnya Raja dan Ratu mengadakan pesta pernikahan untuk sang Putri dan Pangeran yang berakhir dengan kebahagiaan sepanjang hidup mereka.

2.Alur atau Plot

Peristiwa-peristiwa yang ditampilkan dalam cerita “Putri Tidur” bersifat sederhana. Cerita tersebut dibagi ke dalam beberapa tahap. Tahap-tahap tersebut yaitu:

a.Tahap awal

Penceritaan dimulai dari kehidupan Raja dan Ratu, dimana mereka tidak memiliki seorang anak. Contoh kutipannya adalah: Dahulu kala, hiduplah seorang Raja dan Ratu yang tidak memiliki anak. Masalah ini membuat Raja dan Ratu sangat sedih. Suatu hari, ketika sang Ratu sedang berjalan di tepi sungai, seekor ikan kecil mengangkat kepalanya keluar dari air dan berkata, “Apa yang kamu inginkan akan terpenuhi, dan kamu akan segera mempunyai seorang putri.” Apa yang ikan kecil ramalkan menjadi kenyataan dan sang Ratu melahirkan seorang gadis kecil yang cantik sehingga sang Raja tidak dapat menahan kegembiraannya.

b.Tahap tengah

Tahap tengah merupakan inti cerita yang diwarnai dengan berbagai konflik. Konflik dimulai saat peri ketiga belas membalas dendam karena tidak diundang oleh Raja dan berkata bahwa di usia yang kelima belas sang Putri akan tertusuk jarum jahit dan meninggal, tetapi peri kedua belas melunakkan perkataan tersebut, “Putri tidak akan meninggal tetapi akan tertidur selama seratus tahun. Pada saat usia kelima belas sang Putri tidak sengaja tertusuk jarum jahit, lalu jatuh ke tanah dan tertidur. Contoh kutipannya adalah: Ketika peri kesebelas selesai memberikan berkahnya, peri ketiga belas yang tidak mendapat undangan membalas dendam. Dia berkata, “Putri Raja dalam usianya yang kelima belas akan tertusuk oleh jarum jahit dan meninggal.” Kemudian peri kedua belas maju ke depan dan berkata bahwa kutukan itu akan terjadi, tetapi ia dapat memperlunak kutukan itu dan berkata bahwa sang Putri tidak akan meninggal, tetapi hanya tertidur selama seratus tahun.

c.Tahap akhir

Setelah muncul konflik maka akan ada tahap akhir cerita. Klimaks ceritanya dapat disimpulkan bahwa tekad yang keras akan berbuah kebahagiaan. Contoh kutipannya adalah: Kemudian seorang Pangeran yang mendengar cerita berkata, “Semua cerita ini tidak akan menakutkan saya. Saya akan pergi dan melihat Putri Tidur tersebut.” Walaupun orang tua yang bercerita telah mencegah Pangeran tersebut untuk pergi, Pangeran tersebut tetap memaksa untuk pergi. Sang Pangeran lalu berlutut dan mencium sang Putri. Saat itu sang Putri membuka mata dan terbangun, tersenyum kepada Pangeran karena kutukan peri ketiga belas telah patah. Akhirnya Raja dan Ratu mengadakan pesta pernikahan untuk sang Putri dan Pangeran yang berakhir dengan kebahagiaaan sepanjang hidup mereka.

Alur yang dipergunakan dalam cerita “Putri Tidur” adalah alur maju. Alur maju dinilai sesuai untuk karakter seorang anak, karena dapat memancing rasa keingintahuan  anak untuk selalu mengikuti perkembangan ceritanya.

3.Penokohan atau Perwatakan

a.Tokoh utama dan tokoh tambahan

Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam cerita. Tokoh utama dalam cerita “Putri Tidur” adalah Putri yang memiliki sifat baik, ramah tamah, dan bijaksana. Contoh kutipannya adalah: Sementara itu, semua berkah yang diberikan oleh peri-peri terwujud, sang Putri menjadi sangat cantik, baik budi, ramah tamah, bijaksana, hingga semua orang mencintainya.

Pangeran yang memiliki sifat tidak mudah takut dan memiliki tekad yang keras. Contoh kutipannya adalah: Semua cerita ini tidak akan menakutkan saya. Saya akan pergi  dan melihat Putri Tidur tersebut. Walaupun orang tua yang bercerita tadi telah mencegah Pangeran untuk pergi, Pangeran tersebut tetap memaksa untuk pergi.

Tokoh tambahan adalah tokoh yang pemunculannya tidak dipentingkan dalam penceritaan.

Raja dan Ratu yang memiliki sifat sangat menyayangi putrinya. Contoh kutipannya adalah Raja berharap agar dia dapat menyelamatkan putri kesayangannya dari ancaman kutukan itu dan memerintahkan semua jarum jahit di istananya di bawa keluar dan dimusnahkan.

Peri kesatu hingga peri kedua belas memiliki sifat baik hati. Contoh kutipannya adalah: Setelah perjamuan, semua peri memberikan hadiah terbaiknya untuk putri kecil tersebut. Satu peri memberikan kebaikan, peri yang lain memberi kecantikan , kekayaan, dan begitu pula dengan peri yamg lain.

Peri ketiga belas yang memiliki sifat mudah marah dan pendendam. Contoh kutipannya adalah: Peri ketiga belas yang tidak mendapat undangan itu menjadi sangat marah dan membalas dendam.

b.Tokoh Protagonis, Antagonis, dan Tritagonis

Tokoh protagonis merupakan tokoh yang banyak disenangi karena tokoh protagonis memiliki sifat yang baik-baik. Tokoh protagonis yang terdapat dalam cerita “Putri Tidur” adalah sang Putri.

Tokoh antagonis adalah lawan dari tokoh protagonis. Tokoh antagonis yang terdapat dalam cerita “Putri Tidur” adalah peri ketiga belas.

Tokoh tritagonis adalah tokoh penengah diantara pertikaian yang terjadi, biasanya tokoh tritagonis hadir menjelang akhir cerita. Tokoh tritagonis dalam cerita “ Putri Tidur” adalah sang Pangeran.

4.Latar atau Setting

Latar adalah segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya suatu peristiwa.

Latar tempat terjadinya cerita adalah di istana atau kerajaan. Contoh kutipannya: Tepat pada usianya yang kelima belas, Raja dan Ratu kebetulan meninggalkan istana, dan sang Putri ditinggalkan sendiri di istana.

Latar waktu dalam cerita “Putri Tidur” adalah pagi hari. Contoh kutipannya: Tepat pada usianya yang kelima belas, Raja dan Ratu kebetulan meninggalkan istana, dan sang Putri ditinggalkan sendiri di istana. Sang Putri menjelajah di istana sendirian dan melihat kamar-kamar yang ada pada istana itu, hingga akhirnya dia masuk ke satu menara tua dan melihat seorang wanita sedang menjahit dan menyulam.

Suasana yang tercipta dalam cerita “Putri Tidur” adalah

a.Mengharukan, contoh kutipannya adalah Sang Pangeran lalu berlutut dan mencium sang Putri. Saat itulah sang Putri membuka matanya dan terbangun, tersenyum kepada sang Pangeran karena kutukan sang peri ketiga belas telah patah.

b.Membahagiakan, contoh kutipannya adalah Akhirnya Raja dan Ratu mengadakan pesta pernikahan untuk sang Putri dan Pangeran yang berakhir dengan kebahagiaan sepanjang hidup mereka.

5.Sudut Pandang

Sudut pandang yang dipergunakan dalam cerita “Putri Tidur” adalah sudut pandang orang ketiga, dimana penulis adalah seorang yang berada di luar cerita yang menampilkan tokoh cerita dengan menyebut nama atau kata ganti seperti: mereka, ia, dia, sang Putri, sang Pangeran, sang Raja, sang Ratu atau sang Peri.

6.Amanat atau Pesan Moral

Cerita ini mengandung pesan moral untuk anak-anak agar dalam kehidupannya anak-anak dapat berperilaku:

a.Selalu bersabar dalam segala hal

Contoh kutipannya: Suatu hari, ketika sang Ratu berjalan di tepi sungai, seekor ikan kecil mengangkat kepalanya keluar dari air dan berkata, “Apa yang kamu inginkan akan terpenuhi, dan kamu akan segera mempunyai seorang putri.” Apa yang ikan kecil tersebut ramalkan segera menjadi kenyataan; dan sang Ratu melahirkan seorang gadis kecil yang sangat cantik sehingga sang Raja tidak dapat menahan kegembiraannya.

b.Jangan mudah marah dan memiliki sifat pendendam

Contoh kutipannya: Peri ketiga belas yang tidak mendapat undangan dan menjadi sangat marah itu, datang dan membalas dendam. Dia berkata, “Putri Raja dalam usianya yang kelima belas akan tertusuk oleh jarum jahit dan meninggal.”

c.Jangan mudah menyerah dan takut sebelum mencoba

Contoh kutipannya: Kemudian seorang pangeran yang mendengar ceritanya berkata, “Semua cerita ini tidak akan menakutkan saya, Saya akan pergi dan melihat Putri Tidur tersebut.” Walaupun orang tua yang bercerita tadi telah mencegah pangeran itu untuk pergi, pangeran tersebut tetap memaksa untuk pergi.

d.Saling menyayangi antar keluarga

Contoh kutipannya: Raja berharap agar dia dapat menyelamatkan putri kesayangannya dari ancaman kutukan itu dan memerintahkan semua jarum jahit di istananya harus di bawa keluar dan dimusnahkan.

e.Jadilah anak yang memiliki sifat baik budi, ramah tamah, baik, dan bijaksana

Contoh kutipannya: Sementara itu, semua berkah yang diberikan oleh peri-peri tadi terwujud, sang Putri menjadi sangat cantik, baik budi, ramah-tamah dan bijaksana, hingga semua orang mencintainya.

7.Bahasa

Bahasa yang dipergunakan dalam cerita “Putri Tidur” kurang mencerminkan bahasa anak, karena didalamnya terdapat beberapa kata yang terlihat sulit dimengerti apabila cerita ini dibaca oleh anak. Cerita ini sesuai untuk anak sekolah dasar kelas atas, sehingga apabila diberikan kepada anak sekolah dasar kelas rendah tentu mereka akan mengalami kesulitan dalam memahami cerita. Isi ceritanya memang untuk anak-anak tetapi tidak mengunakan bahasa anak pada umumnya. Contoh kutipannya: Ketika peri yang kesebelas selesai memberikan berkahnya, peri ketiga belas yang tidak mendapat undangan dan menjadi sangat marah itu, datang dan membalas dendam. Tetapi mereka tidak pernah dapat berhasil karena duri dan tanaman yang terhampar menjalin dan menjerat mereka. Walaupun orang tua yang bercerita tadi telah mencegah pangeran itu untuk pergi, pangeran tersebut tetap memaksa untuk pergi.

 

D.Unsur Ekstrinsik

Biografi Pengarang: Jacob dan Wilhelm Grimm dikenal sebagai The Brothers Grimm. Jacob Grimm lahir pada tanggal 4 Januari 1785, di Hanau, Jerman, dan meninggal pada tanggal 20 September 1863. Sedangkan Wilhelm Grimm lahir pada tanggal 24 Februari 1786, di Hanau, Jerman, dan meninggal pada tanggal 16 Desember 1859. Brothers Grimm bergelar sarjana Jerman dan penulis. Grimm bersaudara adalah sejarawan rakyat romantis. Mereka mengeluarkan koleksi pertama yaitu Kisah Anak-anak dan Rumah, pada tahun 1812. Cerita ini dikumpulkan dengan merekam cerita yang diceritakan oleh petani dan masyarakat desa. Wilhelm menempatkan mereka ke dalam bentuk tertulis dan memberi mereka gaya, menyenangkan anak-anak. Selain itu, Grimms bekerja pada potongan editing yang ada di cerita rakyat lain dan sastra awal. Antara 1816 dan 1818, mereka menerbitkan dua volume legenda Jerman. Pada waktu yang sama mereka menerbitkan volume studi dalam sejarah sastra awal, Hutan Tua di Jerman.

E.Wacana Akhir

Pembacaan buku sastra anak sangat baik untuk perkembangan bahasa anak. Dengan membaca, secara tidak disadari akan menambah kekayaan kosakata yang dimiliki seorang anak. Hal ini tidak terlepas dari kekreatifan penulis. Seorang penulis harus berusaha menciptakan suatu sastra baik fiksi atau non fiksi yang sesuai dengan kehidupan anak. Penulis juga harus menciptakan fantasi atau pun ekspresi-ekspresi menarik dalam suatu cerita untuk menghidupkan suasana yang tercipta dalam cerita. Namun, dalam penciptaan fantasi juga harus memperhatikan tujuan, artinya penulis harus mengetahui bahwa cerita ini ditujukan untuk anak-anak sehingga ia harus menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah di pahami, menggunakan alur maju sehingga dapat memancing anak untuk mengikuti jalan ceritanya, penokohannya jelas, dan mengandung pesan moral yang dapat diambil oleh anak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s