Hakikat Belajar

A. Pengertian Belajar

Pengertian belajar secara psikologis, dapat diartikan sebagai proses perubahan dalam perilaku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Menurut Slameto, belajar adalah proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi individu dengan lingkungannya. Sedangkan, menurut Cronbach, belajar ialah perubahan perilaku sebagai hasil dari pengalaman.

Dari berbagai definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses memperoleh pengetahuan dan pengalaman dalam wujud perubahan tingkah laku dan kemampuan bereaksi antara individu dengan lingkungannya.

 

B. Tujuan Belajar

Belajar yang dilakukan seorang siswa tentu memiliki tujuan. Tujuan tersebut antara lain:

  1. Meningkatkan kemampuan kognitif;
  2. Untuk mendapatkan pengetahuan dan wawasan;
  3. Untuk mendapatkan pengakuan diri;
  4. Mengubah diri kearah yang lebih baik;
  5. Proses mengembangkan potensi diri untuk meraih cita-cita.

 

C. Ciri Perilaku Belajar

Tidak semua tingkah laku dikategorikan sebagai aktivitas belajar. Adapun tingkah laku yang dikategorikan sebagai perilaku belajar memiliki ciri sebagai berikut:

 

  1. Perubahan tingkah laku terjadi secara sadar

Suatu perilaku digolongkan sebagai aktivitas belajar apabila pelaku menyadari terjadinya perubahan tersebut atau sekurang-kurangnya merasakan adanya suatu perubahan dalam dirinya. Misalnya, menyadari pengetahuannya bertambah.

  1. Perubahan bersifat kontinu dan fungsional

Sebagai hasil belajar, perubahan yang terjadi dalam diri seseorang berlangsung secara berkesinambungan dan tidak statis. Satu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya dan selanjutnya akan berguna bagi proses belajar berikutnya. Contoh, jika seorang anak belajar membaca, maka ia akan mengalami perubahan dari tidak dapat membaca menjadi dapat membaca.

  1. Perubahan bersifat positif dan aktif

Perubahan dikatakan positif apabila perilaku senantiasa bertambah dan tertuju untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Perubahan dalam belajar bersifat aktif berarti bahwa perubahan tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan karena usaha individu sendiri.

  1. Perubahan bersifat permanen

Perubahan yang terjadi karena belajar bersifat menetap atau permanen. Contoh, seorang anak yang cakap bermain sepeda setelah belajar tidak akan hilang begitu saja melainkan akan terus dimiliki atau bahkan berkembang jika tetap dilatih.

  1. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah

Perubahan tingkah laku dalam belajar mensyaratkan adanya tujuan yang akan dicapai oleh pelaku belajar dan terarah kepada perubahan tingkah laku yang benar-benar disadari. Contoh, seseorang yang belajar mengetik, sebelumnya sudah menetapkan apa yang mungkin dapat dicapai dengan belajar mengetik.

 

 

  1. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku

Perubahan yang diperoleh seseorang setelah melalui proses belajar meliputi perubahan keseluruhan tingkah laku.Misal, jika seseorang belajar sesuatu, maka perubahan akan mencakup dalam sikap, keterampilan, dan pengetahuan.

 

D. Manifestasi Perilaku Belajar

Manifestasi atau perwujudan perilaku belajar biasanya lebih tampak dalam perubahan-perubahan sebagai berikut: kebiasaan, keterampilan, pengamatan, berpikir asosiatif dan daya ingat, sikap, inhibisi, apresiasi, dan tingkah laku afektif. Mengenai timbulnya sikap dan kesanggupan konstruktif, juga berpikir kritis dan kreatif, seperti yang dikemukakan sebagian ahli.

  1. Manifestasi Kebiasaan

Menurut Burghardt, kebiasaan itu timbul karena proses penyusutan kecenderungan respons dengan menggunakan stimulasi berulang-ulang. Penyusutan yang dimaksud adalah pengurangan perilaku yang tidak diperlukan. Contoh, siswa yang belajar bahasa berkali-kali cenderung menghindari penggunaan kata atau struktur yang salah, dan akhirnya akan terbiasa menggunakan bahasa yang baik dan benar.

  1. Manifestasi Keterampilan

Keterampilan adalah kegiatan yang lazimnya tampak dalam kegiatan jasmaniah seperti, menulis, mengetik, olahraga, dan sebagainya. Keterampilan ini tetap membutuhkan koordinasi gerak yang teliti dan kesadaran tinggi.

  1. Manifestasi Pengamatan

Pengamatan artinya proses menerima, menafsirkan, dan memberi arti rangsangan yang masuk melalui indera seperti mata dan telinga untuk mencapai pengamatan yang benar objektif sebelum mencapai pengertian. Contoh, seorang anak yang baru pertama kali mendengarkan radio akan mengira bahwa penyiar berada didalam kotak suara. Tetapi, melalui proses belajar anak akan memahami bahwa yang ada didalam hanya suaranya, sedangkan penyiar berada di studio pemancar.

  1. Manifestasi Berpikir Asosiatif dan Daya Ingat

Berpikir asosiatif adalah berpikir dengan cara mengasosiasikan sesuatu dengan lainnya. Kemampuan siswa untuk melakukan hubungan asosiatif yang benar dipengaruhi oleh tingkat pengertian dan pengetahuan yang diperoleh dari hasil belajar. Contoh, siswa mampu menjelaskan arti penting tanggal 17 Agustus, kemampuan siswa tersebut dalam mengasosiasi tanggal bersejarah dengan hari kemerdekaan Indonesia hanya di dapat setelah mempelajari sejarah kemerdekaan.

Daya ingat merupakan proses belajar yang ditandai dengan bertambahnya simpanan materi dalam memori.

  1. Manifestasi Inhibisi

Inhibisi yang dimaksud adalah kesanggupan siswa untuk mengurangi atau menghentikan tindakan yang tidak perlu, lalu memilih tindakan yang lebih baik. Contoh, siswa yang telah mempelajari bahaya alkohol akan menghindari membeli minuman keras dan sebagai gantinya ia membeli minuman sehat, missal susu.

  1. Manifestasi Apresiasi

Apresiasi adalah gejala ranah afektif yang ditujukan pada karya seni budaya seperti, seni sastra, seni musik, seni lukis, seni drama, dan sebagainya. Tingkat apresiasi siswa terhadap nilai sebuah karya sangat bergantung pada pengalaman belajarnya. Misal, apresiasi terhadap nilai seni baca Al-Qur’an dan kaligrafi.

 

E. Faktor yang Mempengaruhi Belajar

Ada tiga faktor yang mempengaruhi belajar yaitu

  1. Faktor Internal adalah faktor yang ada di dalam individu yang sedang belajar. Faktor Internal meliputi:
    1.  Faktor jasmaniah meliputi faktor kesehatan dan cacat tubuh.

Faktor kesehatan sebagai faktor internal yang mempengaruhi belajar yaitu peserta didik yang mengalami gangguan kesehatan tidak dapat belajar secara optimal dan maksimal. Contoh, peserta didik yang menjalani ujian dalam kondisi tidak sehat akan berbeda kondisi belajarnya dan hasil belajarnya dengan peserta didik yang menjalani ujian dalam kondisi prima.

Peserta didik yang mengalami cacat tubuh juga mempengaruhi dalam proses dan hasil belajar. Contoh, siswa yang mengalami cacat tubuh berupa buta tentu akan mempengaruhi proses dan hasil belajar meski menggunakan huruf Braille.

  1. Faktor kelelahan sebagai faktor internal mempengaruhi hasil  belajar. Misal, peserta didik yang mengalami kelelahan karena  telah melakukan pekerjaan yang berat yang melibatkan kegiatan fisik akan kurang dapat memusatkan perhatian dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas.
  2. Aspek psikologis yang meliputi, inteligensi siswa, bakat siswa, minat siswa, dan motivasi siswa.

1)      Tingkat kecerdasan siswa tidak diragukan lagi dalam menentukan keberhasilan siswa. Semakin tinggi inteligensi siswa maka semakin besar peluangnya untuk meraih sukses. Sebaliknya, semakin rendah inteligensi siswa maka semakin kecil peluangnya untuk meraih sukses.

2)      Bakat adalah kemampuan kemampuan individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa banyak bergantung pada upaya pendidikan dan latihan. Contoh, siswa yang berbakat dalam bidang elektro akan mudah menyerap informasi, pengetahuan dan keterampilan dibandingkan dengan siswa lainnya.

3)      Minat berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi terhadap sesuatu. Seorang siswa yang menaruh minat terhadap matematika tentu akan lebih memusatkan perhatian dibanding siswa lain, sehingga ia akan giat belajar untuk meraih prestasi.

4)      Motivasi ada dua macam yaitu motivasi intrinsic dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah motivasi dari dalam untuk kehidupan masa depan. Motivasi ekstrinsik adalah motivasi dari luar. Misalnya, pujian, hadiah ataupun suritauladan.

  1. Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah faktor yang ada diluar individu. Faktor eksternal meliputi:

  1. Faktor Keluarga

Faktor keluarga dapat meliputi cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi keluarga, dan pengertian orang tua.

  1. Faktor Sekolah

Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar meliputi metode mengajar, relasi guru dengan siswa, relasi antar siswa, disiplin sekolah, keadaan gedung, dan tugas rumah.

  1. Faktor Masyarakat

Faktor masyarakat dapat berupa kegiatan siswa dalam masyarakat, teman bergaul, dan bentuk kehidupan dalam masyarakat.

  1. Pendekatan Belajar

Banyak pendekatan belajar yang dapat diajarkan kepada siswa untuk mempelajari bidang studi atau materi pelajaran yang sedang mereka tekuni, dari yang paling klasik hingga yang paling modern. Pendekatan tersebut yaitu:

  1. Pendekatan Hukum Jost

Menurut Reber (1988), salah satu asumsi penting yang mendasari Hukum Jost adalah siswa yang lebih sering mempraktikkan materi pelajaran akan lebih mudah memanggil kembali memori lama yang berhubungan dengan materi yang sedang dipelajari.

  1. Pendekatan Ballard & Clanchy

Menurut Ballard & Clanchy (1990), pendekatan belajar siswa pada umumnya dipengaruhi oleh sikap terhadap ilmu pengetahuan yaitu, sikap siswa melestarikan apa yang sudah ada dan sikap memperluas.

  1. Pendekatan Biggs (1991)

Menurut Biggs, Pendekatan belajar meliputi:

1)      Pendekatan surface ( permukaan bersifat lahiriah) yaitu, kecenderungan belajar siswa karena adanya dorongan dari luar. Misalnya, mau belajar karena takut tidak lulus ujian dan dimarahi orang tua.

2)      Pendekatan deep (mendalam) yaitu, kecenderungan belajar siswa karena adanya dorongan dari dalam. Misalnya, Mau belajar karena memang tertarik pada materi dan merasa membutuhkannya.

3)      Pendekatan achieving (pencapaian prestasi tinggi) yaitu, kecenderungan belajar siswa karena adanya dorongan untuk mewujudkan ego enhancement yaitu ambisi pribadi yang besar dalam meningkatkan prestasi keakuan dirinya dengan cara meraih prestasi setinggi-tingginya.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s