Cinta Berujung Penyesalan

Pusat bimbingan belajar adalah awal pertemuan antara Nana dan Dhisan. Keduanya sama-sama tidak saling mengenal. Salah satu temanDhisan adalah sahabat Nana. Dhisan selalu memperhatikan Nana tanpa ada satu orang pun yang tahu. Tanpa disadari Dhisan juga memperhatikan sikap Nana yang memancarkan kelembutan hatinya. Dhisan benar-benar mengagumi sosok Nana.

Awalnya Dhisan tidak mempunyai keberanian untuk berkenalan dengan Nana. Ia merasa tidak percaya diri. Suatu ketika, Dhisan meminta temannya agar mengenalkan Nana kepadanya. Akhirnya Nana dan Dhisan berkenalan. Perkenalan tersebut menjadi awal hubungan mereka.

Hari demi hari mereka lalui bersama-sama. Hubungan keduanya pun tampak semakin akrab. Dhisan begitu memperhatikan Nana dan mencoba untuk mengambil hatinya. Kebaikan dan perhatian yang diberikan Dhisan seolah mampu membangkitkan gejolak hati Nana. Keduanya seolah menutupi perasaan hatinya dalam-dalam.

***

Malam itu adalah malam indah bagi Nana. Tepat pukul 21.00, handphonenya berbunyi. Ternyata itu adalah suara telephone.

“Assalamu’alaikum” suaranya lembut

“Wa’alaikumsalam, ada apa?

“Na, apakah kau mau menjadi kekasihku?” Tanya Dhisan semangat

Nana terdiam. Seolah-olah bibirnya tak mampu untuk berkata. Angin pun seolah berhenti mendengar percakapan itu. Sejenak percakapan itu terhenti.

“iya.” Jawab Nana dengan malu-malu sambil mematikan telephone.

Nana merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Wajahnya berseri-seri membayangkan perkataan Dhisan beberapa menit yang lalu. Ia tersenyum sendiri. Malam itu seolah menjadi saksi hubungan mereka. Perasaan itu menghantarkan tidurnya.

***

Keesokan harinya, percakapan berikutnya berlanjut di Kantin Sekolah. Mereka duduk berhadapan sambil menikmati semangkuk soto. Tiba-tiba Dhisan memanggil Nana dengan lirih.

“Na, boleh aku bertanya sesuatu?”

“Tentu boleh.”

“Apakah kamu mau ke rumah untuk bertemu dengan ibu?”

“Ada hal apa?” Nana balik bertanya

“Aku ingin mengenalkanmu pada ibu.”

“Baiklah.”jawab Nana

Nana termangu, sambil berpikir apa yang akan dilakukan jika nanti bertemu dengan Ibu Dhisan. Nana seakan tidak ingin membayangkan pertemuan itu. Perasaan canggung selalu menghampirinya. Bel tanda masuk berbunyi. Nana dan Dhisan segera berlari menuju kelas masing-masing.

***

Sore itu Nana memutuskan untuk memenuhi permintaan Dhisan. Sebenarnya perasaan Nana tidak karuan, tetapi ia memberanikan diri untuk datang dan melawan rasa galau di hatinya.

“Selamat sore tante!” sapa Nana

“Masuk nak, pasti ini Nana?”

“Iya tante.” Jawab Nana malu

Tiba-tiba Tante Ratna memanggil Dhisan.

“San, ada temanmu”

“Temanku? Siapa bu?”

“Entahlah, cepat kesini” Pura-pura tidak tahu

“Perempuan atau laki-laki?

“Perempuan,” jawabnya singkat.

Dhisan terkejut, karena perempuan yang datang adalah Nana. Ia sangat senang atas kesediaan Nana datang ke rumah untuk menemui ibunya. Dhisan lalu menghampiri Nana dan duduk disampingnya. Ibunya pun meninggalkan mereka berdua mengobrol di ruang tamu. Tak terasa waktu sudah semakin sore. Nana pun memutuskan untuk pulang, karena rumahnya cukup jauh. Ia pun berpamitan dengan Tante Ratna.

“Tante, Nana pulang.”

“Hati-hati Nak, apa mau diantar Dhisan?”Tanya Tante Ratna

“Tidak tante, aku pulang sendiri saja.”

“Assalamu’alaikum.”

Nana langsung naik motor dan segera pulang.

Tidak terasa hubungan Nana dan Dhisan sudah berjalan kurang lebih tiga bulan. Semua terasa begitu cepat. Selama itu pula hubungan keduanya berjalan dengan baik.

***

Suatu ketika, Nana sedang jalan bersama teman-temannya di pusat perbelanjaan. Tanpa sengaja ia bertemu dengan teman lamanya bernama Awan. Nana sangat terkejut atas pertemuan yang tak terduga itu.

“Awan?” Tanya Nana terkejut

“Iya, Nana?”

Keduanya sama-sama masih termangu seolah tak percaya. Awan mengajak Nana untuk makan siang. Sambil makan, mereka berbincang-bincang menceritakan masa-masa di SMP. Keduanya tertawa lepas dan tidak menunjukkan kekakuan meskipun sudah lama tidak bertemu.

Pertemuan antara Nana dan Awan tidak berhenti begitu saja. Mereka saling bertukar nomor. Inilah awal cobaan untuk Nana. Setelah awal pertemuannya itu, Awan selalu menghubungi Nana, baik melalui telephone atau hanya sekedar SMS.

Suatu hari Awan menyatakan kalau dia mencintai Nana. Nana begitu terkejut mendengarnya, tetapi ia tidak menerima karena sudah memiliki kekasih yaitu Dhisan. Awan tidak peduli meskipun Nana sudah memiliki kekasih. Dia tetap ingin Nana menjadi kekasihnya bagaimanapun caranya.

Awan memang seorang pria yang keras kepala. Segala yang ia inginkan harus menjadi miliknya. Bahkan untuk mendapatkan cinta Nana. Nana merasa bingung, ia tak tahu apa yang harus dilakukan.

Setelah beberapa hari, Nana akhirnya memutuskan Dhisan untuk menjadi kekasih Awan. Dhisan seolah tak percaya kalau Nana memutuskan hubungan mereka. Dhisan tidak ingin hubungannya dengan Nana berakhir begitu saja. Ia memutuskan untuk menemui Nana.

“Na, kenapa kamu memutuskan hubungan kita?” tanya Dhisan serius

“Tidak apa-apa, mungkin ini yang terbaik untuk kita.”

“Tapi aku ingin tahu alasanmu memutuskan hubungan ini.”

“Aku kan sudah bilang tidak apa-apa.”

Dhisan masih belum terima kalau Nana memutuskannya. Ia ingin tahu apa alasannya. Tetapi Nana tidak pernah menjawab pertanyaan Dhisan. Dhisan masih sangat mencintai Nana. Ia tak percaya begitu saja, kalau berakhirnya hubungan mereka tidak ada apa-apa.

Meskipun Nana sudah memutuskan untuk menjadi kekasih Awan, Dhisan tetap memberikan perhatiannya untuk Nana. Dhisan tahu mungkin perhatiannya ini juga sia-sia, tetapi Dhisan tetap mencoba dan tidak pernah menyerah untuk mendapatkan Nana kembali.

***

Hubungan antara Nana dan Awan awalnya berjalan baik. Awan selalu memperhatikan Nana, dan selalu menghubungi setiap saat. Tetapi setelah berjalan sekitar satu bulan, sifat Awan mulai terlihat oleh Nana. Ia adalah seorang yang keras kepala, mudah marah, dan ingin menang sendiri.

Nana mencoba sabar menghadapi sifat-sifat Awan. Ia berharap kesabarannya dapat merubah sifat Awan yang kurang baik. Ternyata tidak, Awan justru ingin menang sendiri, sudah tidak memperhatikan  Nana seperti dahulu. Seolah cintanya kepada Nana itu tidak pernah ada.

Suatu ketika, Awan pergi bersama temannya yang bernama Setya. Ternyata Setya memperkenalkan Awan dengan salah satu temannya bernama Rara. Rara memang sudah lama mengetahui Awan. Ia juga menaruh hati kepada Awan. Maka, ketika Setya memperkenalkan Rara kepada Awan, Rara sangat senang. Dan sejak pertemuan itu, membuat hubungan antara Awan dan Rara semakin dekat bahkan lebih dari seorang sahabat.

Sejak pertemuan Awan dan Rara, sikap Awan kepada Nana semakin berbeda tidak seperti biasanya. Bahkan sekedar SMS saja sulit, apalagi untuk bertemu. Nana mulai curiga atas sikap Awan yang semakin berbeda, maka ia berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.

Nana cukup sabar menghadapi sikap Awan. Suatu ketika, Nana ditelephone oleh Awan. Awalnya Nana merasa senang, tetapi apa yang terjadi, tanpa mempunyai rasa bersalah Awan berkata kalau ia sudah menjalin kasih dengan Rara. Betapa hancurnya hati Nana mendengar pengakuan dari Awan. Nana hanya bisa menangis menghadapi kenyataan pahit ini. Ia tidak percaya bahwa kasih sayang yang selama ini ia berikan kepada Awan justru dibalas dengan pengkhianatan yang begitu menyayat hati Nana.Tanpa pikir panjang Nana memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Awan.

Meskipun berat Nana mencoba untuk menerimanya. Jika mengingat hal yang telah terjadi, ia hanya bisa menangis melihat semua yang terjadi. Nana harus tetap menjalani hidup tanpa bayang-bayang Awan. Ia harus bangkit untuk menunjukkan pada semuanya bahwa ia bukan seorang wanita yang lemah.

Nana mencoba melupakan pengkhianatan yang telah dilakukan Awan. Ia tidak mau jika bayang-bayang Awan selalu menghantui dalam setiap langkah hidupnya. Bagaimanapun juga, Awan adalah masa lalunya yang tidak perlu diingat. Meskipun hati Nana terlalu sulit dan sakit menerimanya.

***

Di tengah aktivitas Nana yang begitu sibuk, tiba-tiba ia teringat kepada Dhisan. Ia juga tidak tahu kenapa bayang-bayang Dhisan tiba-tiba hadir dalam pikirannya. Nana mencoba mengalihkan pikiran itu, tetapi sekeras apapun ia berusaha tetap terasa sulit untuk hilang. Nana sempat menyesal atas keputusannya memutuskan Dhisan hanya untuk seorang Awan yang ternyata hanya ingin mempermainkan cintanya saja. Hingga suatu saat Nana memberanikan diri untuk menghubungi Dhisan.

“Assalamu’alaikum, gimana kabarmu San?”

“Wa’alaikumsalam, alhamdulilah baik, kamu juga baik kan?”

“iya alhamdulilah.”

Sejak saat itu Nana mencoba untuk meraih kembali hati Dhisan. Nana merasa senang, karena Dhisan tidak marah atas apa yang telah ia lakukan kepadanya. Ia ingin menghapus masa lalunya yang sangat menyakitkan. Nana berusaha memberikan perhatian kepada Dhisan agar ia dapat memiliki hatinya kembali. Usaha Nana sangat keras, ia tidak mau menyerah. Nana yakin kalau Dhisan adalah orang yang tepat untuknya.

Tetapi kenyataan apa yang harus dihadapi oleh Nana, ternyata Dhisan sudah memiliki kekasih. Betapa hancurnya hati Nana, saat mengetahui kenyataan itu. Nana seolah tak sanggup menerimanya. Untuk kedua kalinya Nana harus menghadapi kenyataan jika laki-laki yang ia cintai telah menjadi milik orang lain. Nana tak sepenuhnya menyalahkan Dhisann. Semua memang berawal dari kesalahan Nana yang telah memutuskan Dhisan hanya untuk Awan yang ternyata memiliki sifat yang buruk. Ternyata Nana telah mengambil keputusan yang salah dan justru akan menjadikan penyesalan bagi dirinya. Ia sudah tidak mungkin mendapatkan cinta dari Dhisan.

Nasi telah menjadi bubur, meskipun Nana telah menyesal, tetapi penyesalannya itu sia-sia. Setelah semuanya sudah terjadi, Nana baru menyadari bahwa Dhisan adalah laki-laki yang baik. Setiap Nana mengingat Dhisan, hanya penyesalan dan tetesan air mata yang ada. Nana sadar, walaupun ia sudah menyesali perbuatannya, walaupun ia menangis setiap hari, Dhisan tidak akan pernah menjadi kekasihnya lagi.

Akhirnya Nana bisa mengambil hikmah atas apa yang telah terjadi. Ia berpikir bahwa penyesalan itu bukan penghalang hidup, tetapi penyesalan harus dijadikan sebagai pelajaran hidup agar tidak terjatuh ke dalam lubang yang sama. Nana berusaha melawan rasa bersalahnya. Ia tidak mau penyesalannya selalu menghantui langkahnya. Nana mencoba bangkit dari keterpurukannya dan membuka lembaran baru untuk menatap masa depannya bersama dengan orang lain di sekitarnya.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s